DSC_3057

Persaingan Penjualan Pesawat Di Indonesia Hanya Milik Airbus Dan Boeing

Kuala Lumpur – Perebutan pasar penerbangan di Asia akhirnya mengerucut pada persaingan antara dua pabrik pesawat terkemuka di dunia, yaitu Boeing asal Amerika dan Airbus asal Perancis. Keduanya saling bersaing memperebutkan pesanan berjumlah mega dari maskapai-maskapai penerbangan di kawasan tersebut. Lesunya perekononian Amerika dan Eropa membuat kedua pihak pabrik tersebut, selain pabrik-pabrik pesawat lainnya, mengalihkan padangan mereka dari pasar di Eropa dan Amerika ke kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Sebelumnya Indonesia merupakan pasar yang empuk bagi Boeing, dimana hampir seluruh maskapai penerbangan di kawasan ini memakai produk keluaran pabrik yang berpusat di Seattle tersebut. Sebut saja Garuda Indonesia yang setia memakai produk Boeing, mulai dari Boeing 737 classic, Boeing 737NG, Boeing 747 dan yang akan datang dalam waktu dekat, Boeing 777. Lion Air, juga merupakan pelanggan setia Boeing, dimana maskapai ini merupakan launching customer Boeing 737-900ER yang dipesan sebanyak ratusan pesawat. Bahkan pada tahun 2011 lalu Lion Air menandatangani kontrak pembelian 203 pesawat Boeing 737NG dan Boeing 737 MAX. Sriwijaya juga merupakan pelanggan setia Boeing, dimana seluruh armadanya merupakan keluaran pabrik ini. Belum lagi sejumlah maskapai menengah mulai dari Express Air hingga maskapai yang telah almarhum seperti Adam Air, semuanya memakai produk Boeing. Tak heran Indonesia mendapat predikat sebagai benteng bagi Boeing.

Sementara beberapa maskapai yang mengoperasikan Airbus seperti AirAsia dan Mandala, hingga saat ini belum memakai pesawat ini dalam jumlah yang signifikan.

Hingga tibalah mega order dari Lion sejumlah 234 pesawat yang ditandatangani minggu lalu. Pesanan ini diyakini oleh para pengamat sebagai ‘perubahan permainan’ di kawasan ini.

“Ini adalah pesanan yang besar bagi Airbus, karena secara umum Indonesia adalah benteng bagi Boeing. Dan saya pikir akan ada banyak maskapai penerbangan murah yang menginginkan Airbus A320. Dan akan sulit bagi Boeing untuk bisa mengejarnya,” ujar Ravi Madavaram, analisis penerbangan dari Frost & Sullivan,  yaitu sebuah lembaga konsultan keuangan dan pasar asal Amerika, di Kuala Lumpur.

Boeing, pada tahun 2012 lalu untuk pertama kalinya dapat mengungguli Airbus dalam jumlah pesanan pesawat dalam kurun 10 tahun terakhir. Hanya saja, tahun ini akan berat bagi Boeing untuk mempertahankan predikat tersebut, dimana Airbus masih mentargetkan pesanan sekitar 700-750 pesawat hingga akhir tahun ini.

Jean-Francois Laval, wakil presiden eksekutif penjualan  Airbus di kawasan Asia mengatakan bahwa Lion Air adalah sedikit diantara beberapa maskapai yang belum pernah memesan pesawat dari Airbus.”Tapi kami tidak pernah menyerah. Kami tidak pernah benar-benar absen dari kawasan Indonesia. Pesanan besar dari Lion akan meningkatkan kehadiran kami di kawasan Asia”, ujarnya lebih lanjut.

Tingkat pertumbuhan penerbangan murah atau LCC di kawasan ini benar-benar membuat banyak pabrik pesawat berusaha meningkatkan penjualannya. Walau demikian, hingga saat ini persaingan tersebut akhirnya mengerucut ke persaingan antara Airbus dan Boeing. Indonesia yang merupakan kawasan dengan 17 ribu pulau, dimana sejumlah 900 pesawat akan didatangkan pada dekade mendatang, dan sejumlah 180 juta orang diperkirakan akan melakukan perjalanan pesawat di tahun 2021, tentu saja merupakan gula yang berupaya diperebutkan oleh para semut.

Selain kedua pabrik tersebut, pabrik pesawat Sukhoi asal Rusia dan Bombardier asal Kanada berupaya ikut memperebutkan pasar di Indonesia. Kedua pabrik ini gencar mempromosikan pesawatnya ke maskapai di kawasan ini. Sukhoi, pabrik pesawat asal Rusia telah berhasil menjual pesawatnya pada Sky Aviation, dan Bombardier telah menjual beberapa pesawat ke Garuda Indonesia, dimana sebanyak 7 pesawat dijadwalkan akan datang pada tahun ini. Tapi untuk mencapai penjualan sebesar Boeing dan Airbus, kedua pabrik pesawat tersebut masih harus membuktikan performanya sebelum mendapat pesanan dalam jumlah mega, seperti yang dicapai oleh Boeing dan Airbus.

 photo : rinaldi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


5 − = three

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

WpCoderX